Jumat, 06 Januari 2012

PENGARUH LATIHAN RENTANG GERAK SENDI TERHADAP LINGKUP GERAK SENDI PADA PASIEN FRAKTUR FEMUR

PENGARUH  LATIHAN  RENTANG  GERAK  SENDI  TERHADAP LINGKUP GERAK SENDI PADA PASIEN FRAKTUR FEMUR
POST OPERASI ORIF DI INSTALASI RAWAT INAP BEDAH
 RUMAH SAKIT UMUM PUSAT Dr. MOHAMMAD HOESIN  PALEMBANG TAHUN 2011




 
















OLEH :
FADLY IRWANSYAH
NIM. PO. 71.20.4.10.009 MS KMB







POLITEKNIK KESEHATAN KEMENKES PALEMBANG
PROGRAM STUDI DIPLOMA IV MITRA SPESIALIS
KEPERAWATAN  MEDIKAL  BEDAH
JURUSAN  KEPERAWATAN
PALEMBANG
TAHUN 2011
PENGARUH LATIHAN RENTANG GERAK SENDI TERHADAP LINGKUP GERAK SENDI PADA PASIEN FRAKTUR FEMUR
POST OPERASI ORIF DI INSTALASI RAWAT INAP BEDAH
 RUMAH SAKIT UMUM PUSAT Dr. MOHAMMAD HOESIN  PALEMBANG TAHUN 2011




Karya Tulis Ilmiah ini diajukan untuk memenuhi persyaratan
Sarjana Sains Terapan (SST) pada Program Studi DIV
Mitra Spesialis Keperawatan Medikal Bedah

 













OLEH :
FADLY IRWANSYAH
NIM. PO. 71.20.4.10.009 MS KMB




POLITEKNIK KESEHATAN KEMENKES PALEMBANG
PROGRAM STUDI DIPLOMA IV MITRA SPESIALIS
KEPERAWATAN  MEDIKAL  BEDAH
JURUSAN  KEPERAWATAN
PALEMBANG
TAHUN 2011
PROGRAM STUDI D-IV MITRA SPESIALIS KEPERAWATAN MEDIKAL BEDAH
POLITEKNIK KESEHATAN PALEMBANG JURUSAN KEPERAWATAN
Karya Tulis Ilmiah,  November 2011

Fadly Irwansyah

Pengaruh Latihan Rentang Gerak Sendi Terhadap Lingkup Gerak Sendi Pada Pasien Fraktur Femur Post Operasi Orif Di Instalasi Rawat Inap Bedah Rumah Sakit Umum Pusat Dr. Mohammad Hoesin  Palembang Tahun 2011

(xvi + 39 halaman + 5 Tabel + 6 Lampiran)

ABSTRAK

Data Rekam Medis RSUP Dr. Mohammad Hoesin Palembang diperoleh jumlah pasien fraktur femur pada tahun 2009 sebanyak 352 pasien dan tahun 2010 sebanyak 417 orang. Dilakukan penelitian yang bertujuan untuk mengetahui pengaruh latihan rentang gerak sendi terhadap lingkup gerak sendi pada pasien fraktur femur post ORIF di Instalasi Rawat Inap Bedah Rumah Sakit Umum Pusat Dr. Mohammad Hoesin Palembang Tahun 2011.
Populasi penelitian adalah semua pasien fraktur femur post operasi ORIF yang dirawat di Instalasi Rawat Inap Bedah RSUP dr. Mohammad Hoesin Palembang pada tahun 2010 sebanyak 417. Sampel diambil secara purposive berjumlah 30 orang. Jenis penelitian Eksperimen Semu dengan rancangan ”Non-Equivalent Control Group. Variabel yang diteliti adalah lingkup gerak sendi pada kelompok ROM aktif dan ROM pasif. Analisis data meliputi univariat dan bivariat dengan uji statistik menggunakan uji t-test independen.
Hasil analisis menunjukkan bahwa nilai rata-rata lingkup gerak sendi pada kelompok ROM aktif adalah 55,33 derajat dengan standar deviasi 9,574 derajat, sedangkan pada kelompok ROM pasif adalah 45,07 derajat dengan standar deviasi 8,111 derajat. Ada pengaruh latihan rentang gerak sendi terhadap lingkup gerak sendi pada pasien fraktur femur post ORIF di Instalasi Rawat Inap Bedah RSUP dr. Mohammad Hoesin Palembang tahun 2011 (p value 0,016).
Disarankan kepada pihak rumah sakit untuk menyediakan alat goniometer di ruang rawat inap bedah. Perlunya menyediakan alat goniometer di laboratorium pendidikan. 
                                                                                                            
Daftar Pustaka  :   16 (1995-2011)
Kata Kunci         :   Latihan Rentang Gerak Sendi











PROGRAM Of Studies Specialized Partners IV-D Medical Nursing Surgical Of Health Polytechnic Palembang Department of Nursing
Scientific Writing, November 23, 2011

Fadly Irwansyah

Effects On The Range Of Motion Exercises Of Amplitude Of Movement In Patients With Fractures Of The Femur Post Operatif ORIF In Installation Surgical Hospital Centre Dr. Mohammad Hoesin Palembang 2011

(xvi + 39 halaman + 5 Tabel + 6 Lampiran)

ABSTRACT

The register medical data RSUP Dr. Mohammad Hoesin Palembang obtained the number of patients with fracture of femur in 2009 up to 352 patients and 2010 up 417 people. Preliminary studies of 3 people RAFI patients postoperative results showed that patients are afraid to passive and active movements that can result in decreased range of motion. Then he carried out research aimed at effects on the range of motion exercises of amplitude of movement in patients with fractures of the femur post operatif ORIF in Installation Surgical dr. Mohammad Hoesin Palembang 2.
The study population was all patients with postoperative femoral fracture were treated at the department of Installation Inpatient Surgical ORIF. Mohammad Hoesin Palembang in 2010 as many as 417. Samples were taken purposively numbered 30 people. Quasi-Experimentation with this type of research "The Non-Equivalent Control design. The variables studied were the range of motion in active and passive ROM. Data analysis included univariate and bivariate statistical tests by using independent t-test.
The analysis showed that the average range motion in the active ROM 55.33 degrees with a standard deviation of 9.574 degrees, while the average range of motion in passive ROM was 45.07 degrees with a standard deviation of 8.111 degrees. There is effects on the range of motion exercises of amplitude of movement in patients with fractures of the femur post operatif ORIF in Installation Surgical dr. Mohammad Hoesin Palembang 2011 (p value 0.016).
It is recommended to the hospital to prepare goniometry tools In Installation Surgical Hospital Centre. Needed to prepare goniometry in education laboratory.

Bibliography     :   16 (1995-2011)
Keyword           :   Range of Motion








DAFTAR RIWAYAT HIDUP




Nama                                       :     Fadly Irwansyah
Tempat / Tanggal Lahir           :     Palembang, 12 Juni 1983
Jenis Kelamin                          :     Laki-laki
Alamat                                    :     Jln. M. Yusuf Wahid No. 89 Perumnas Sukajadi Prabumulih Timur Kota Prabumulih 30111
Agama                                     :     Islam
Status                                      :     Menikah
Nama Ayah                             :     H. Ishak Bakri, M.Kes
Nama Ibu                                :     Hj. Dra. Marwiyah
Nama Istri                               :     Rini Miranti, AM.Keb
Nama Anak                             :     Fini Olivia



Riwayat Pendidikan
1.      SD Negeri 495 Palembang Tamat Tahun 1996
2.      SLTP Negeri 2 Palembang Tamat Tahun 1999
3.      SMU YPI Tunas Bangsa Palembang Tamat Tahun 2002
4.      Poltekkes Kemenkes Palembang Jurusan Keperawatan Tamat Tahun 2005













MOTTO DAN PERSEMBAHAN

MOTTO :
“Sukses tidak diukur dari posisi yang dicapai seseorang dalam hidup tapi kesulitan yang berhasil diatasi ketika berusaha meraih sukses”. 

“jangan berpikir tentang seberapa besar beban yang ada di depanmu, namun berpikirlah bagaimana cara memikul beban tersebut”.






Kupersembahkan Kepada
Karyaku ini kupersembahkan kepada :
v Ibunda (Hj. Dra. Marwiyah) dan ayahandaku (H. Ishak Bakri, M.Kes) tercinta yang selalu berdoa untuk kebaikan ananda
v Istriku (Rini Miranti, AM.Keb) tercinta yang selalu mendukungku baik suka maupun duka.
v Anakku (Fini Olivia) tersayang yang selalu menghiburku dikalaku susah
v Adik-adikku dan keluarga besarku
v Teman-teman seperjuangan
v Almamater



BAB I
PENDAHULUAN

A.    Latar Belakang Masalah
Cedera dan kecelakaan angkutan darat / lalu lintas termasuk dalam pola 10 penyakit terbanyak pasien rawat jalan / inap di rumah sakit. Cedera / perdarahan intracranial, cedera badan multiple dan trauma kapitis menempati peringkat 10 terbanyak. Cedera intracranial (trauma capitis) juga menempati peringkat 5 dari penyakit utama penyebab kematian di rumah sakit. (Depkes RI, 2007)
Dimana kecelakaan lalulintas merupakan salah satu faktor penyebab terjadinya trauma rata-rata setiap penduduk 60 juta penduduk Amerika Serikat mengalami trauma dan 50% memerlukan tindakan medis 3,6, juta (12%) membutuhkan perawatan di rumah sakit. Di dapatkan 300 ribu orang diantaranya menderita kecacatan yang menetap (1%) dari 8,7 juta orang, menderita kecacatan sementara (30%). Sedang di indonesia tercatat kurang lebih 12 ribu orang pertahunnya mengalami kecelakaan lalu lintas, dilihat dari banyaknya kecelakaan sebagai akibat adanya kematian adalah kondisi patah tulang atau fraktur.
Berdasarkan data Departemen Kesehatan RI bahwa jumlah kecelakaan lalu lintas dari tahun 2003 hingga tahun 2005 terus meningkat, begitu pula dengan jumlah korban luka maupun meninggal terus bertambah. Berdasarkan data Susenas tahun 2004 bahwa prevalensi cedera karena kecelakaan lalu lintas di Indonesia pada penduduk berumur > 15 tahun adalah 1,02% tertinggi di DI Yogyakarta (3,04%) dan terendah di Maluku Utara (0,28%). Prevalensi cedera karena kecelakaan lalu lintas di perkotaan 1,3%, sedangkan di pedesaan 0,8%. Sedangkan prevalensi cedera bukan karena kecelakaan lalu lintas (jatuh, terbakar, keracunan, tenggelam, kekerasan dan lain-lain) pada penduduk berumur > 15 tahun adalah 0,4%.
Dengan demikian kecelakaan lalu lintas sering terjadi pada usia muda (produktif) sehingga apabila tidak segera mendapatkan perawatan yang baik maka dapat mengancam jiwa penderita.
Kecelakaan dapat menimbulkan cidera, baik cidera ringan maupun cidera berat dan dapat juga menimbulkan kecacatan bahkan kematian. Salah satunya yaitu fraktur. Fraktur adalah terputusnya kontinuitas tulang dan ditentukan sesuai jenis dan luasnya. Sebagian besar fraktur dapat disebabkan oleh kekuatan yang tiba-tiba dan berlebihan, yang dapat berupa pemukulan, penghancuran penekukan, pemuntiran atau penarikan (Smeltzer, 2001).
Sementara data Polda Sumsel mencatat bahwa jumlah kecelakaan lalu lintas di Sumsel selama dua tahun terakhir (2007-2008) mengalami peningkatan. Kenaikan kasus kecelakaan lalu lintas antara lain disebabkan jumlah kendaraan yang setiap tahun meningkat sehingga kecelakaan juga mengalami peningkatan, selain karena adanya beberapa faktor pendukung terjadi kecelakaan lainnya termasuk kepatuhan pada aturan lalu lintas dan kondisi jalan. Pada tahun 2007, jumlah korban laka lantas mencapai 1.399 kasus, dan tahun 2008 naik menjadi 1.551 kasus. Korban yang meninggal dunia pada tahun 2007 mencapai 791 orang, dan tahun 2008 turun menjadi 86 orang.
Penanganan patah tulang terbagi menjadi dua jenis yaitu secara konservatif atau dilakukan tanpa pembedahan dan dilakukan dengan pembedahan. Tindakan medis yang sering diberikan pada fraktur femur adalah dengan pemasangan plate and screw sebagai alat fiksasi atau penyambung tulang yang patah. Dengan tujuan agar fragment dari tulang yang patah tidak terjadi pergeseran dan dapat sambung lagi dengan baik.
Masalah yang terjadi pada pasien pasca ORIF (Open Reduction Internal Fixation) Fracture Femur 1/3 Distal dextra dengan plate and screw meliputi impairment, functional limitation, disability. Yang termasuk di dalam impairment adalah oedem / bengkak pada ankle hingga knee dextra,   nyeri sepanjang knee hingga ke pangkal paha kanan, penurunan fungsi otot-otot ankle, knee, dan hip dextra,  Keterbatasan LGS (Lingkup Gerak Sendi) kaki kanan. Yang termasuk di dalam functional limitation adalah ketidakmampuan berdiri, berjalan, serta ambulasi. Yang termasuk di dalam disability adalah aktivitas pasien terganggu karena keterbatasan gerak yang di alami oleh pasien, sosialisasi pasien dengan teman-teman kantor dan tetangga (lingkungan) terganggu. (Kristiantari, 2009)
Perubahan yang terjadi pada sistem muskuloskeletal bisa menyebabkan penurunan lingkup gerak sendi. Penurunan lingkup gerak sendi yang terbesar terjadi pada cervical dan trunk, khususnya pada gerakan ekstensi, lateral fleksi dan rotasi. Pasien yang telah dilakukan operasi seringkali dapat menimbulkan permasalahan yaitu adanya luka operasi pada jaringan lunak dapat menyebabkan proses radang akut dan adanya oedema dan fibrosis pada otot sekitar sendi yang mengakibatkan keterbatasan gerak sendi terdekat, fraktur menyebabkan timbulnya rasa nyeri, oedema pada daerah tungkai bawah serta penurunan fungsi otot hamstring dan otot quadriceps yang menyebabkan adanya keterbatasan gerak daerah sendi lutut. (Wulan Brury, 2005)
Terapi latihan adalah modalitas yang tepat untuk memulihkan fungsi bukan saja pada bagian yang mengalami cidera tetapi juga pada keseluruhan anggota gerak tubuh. Terapi latihan antara lain static contraction yaitu untuk mengurangi oedem pada tungkai yang disebabkan proses radang karena luka incisi,  passive exercise untuk memelihara luas gerak sendi, active exercise untuk memelihara luas gerak sendi dan meningkatkan kekuatan otot. Selain itu terapi latihan berupa transfer, posisioning dan ambulasi pasien untuk meningkatkan kemampuan aktivitas mandiri pasien.
Pasien yang mengalami keterbatasan mobilisasi tidak mampu melakukan beberapa atau semua latihan rentang gerak dengan mandiri. Keterbatasan ini dapat diidentifikasikan pada klien yang salah satu extremitas mempunyai keterbatasan gerakan atau klien yang mengalami immobilisasi seluruhnya. Ketika merawat klien yang mengalami gangguan mobilisasi aktual atau potensial maka perawat menyusun intervensi yang langsung mempertahankan mobilisasi sendi maksimum. Salah satu intervensi keperawatan adalah latihan rentang gerak. (Potter & Perry, 2005)
Bentuk mobilisasi yang digunakan secara pasif menggerakkan anggota gerak, tungkai dan lengan di tempat tidur, gerakan aktif berupa gerakan fleksi ekstensi bahu, siku, dan paha. Mobilisasi dini berfungsi untuk mencegah dan membatasi sedikit kecemasan dan depresi, mencegah tromboemboli, menurunkan angka morbiditas dan mortalitas, memperbaiki fungsional kardiovaskuler (Potter & Perry, 2005). Mobilisasi dini tidak segera dilakukan dapat menimbulkan hipovolemi yang menyebabkan viskositas darah meningkat sehingga mudah terjadinya emboli, ventilasi paru akan berkurang akibat mengecilnya volume paru, kekuatan kontraksi otot dan jumlah massa otot rangka akan menurun (Black & Jacobs, 2002). Sehingga peran perawat dalam mobilisasi dini penting dalam tercapainya tujuan kesembuhan, bimbingan perawat dan intervensinya yang intensif dapat mengurangi kekambuhan penyakit
Di RSUP Dr. Mohammad Hoesin Palembang, fraktur femur merupakan kelompok tiga besar dalam kunjungan pasien dengan fraktur setiap bulan. Dari data Rekam Medis RSUP Dr. Mohammad Hoesin Palembang diperoleh jumlah pasien fraktur femur pada tahun 2009 sebanyak 553 pasien. Dan dari data tersebut hampir semua pasien fraktur dilakukan tindakan pembedahan.
Berdasarkan hasil survey pendahuluan yang peneliti lakukan pada bulan Juli-Agustus 2011 terhadap 3 orang pasien fraktur femur post operasi ORIF didapatkan bahwa pada hari ketiga post operasi pasien takut untuk melakukan gerak sehingga tampak udem pada daerah sekitar operasi. Berdasarkan hasil wawancara terhadap 3 orang pasien tersebut didapatkan bahwa pasien mengeluh nyeri jika perawat akan menggerakan kakinya. Sedangkan pasien tidak mau untuk melakukan gerak sendiri pada daerah operasi karena takut nyeri. Jika hal ini tidak segera ditanggulangi maka pasien akan mengalami keterbatasan gerak yang dapat memperpanjang hari perawatan pasien di rumah sakit.
Dari uraian di atas maka perlu dilakukan penelitian pengaruh  latihan rentang gerak sendi terhadap lingkup gerak sendi pada pasien fraktur femur post ORIF di Ruang Rawat Inap Bedah Rumah Sakit Umum Pusat dr. Mohammad Hoesin Palembang Tahun 2011.

B.     Rumusan Masalah
Masih banyaknya pasien yang tidak mau bergerak sendiri setelah operasi fraktur femur karena takut nyeri. Jika hal ini tidak segera ditanggulangi akan menimbulkan perlengketan jaringan otot sehingga terjadi fibrotik dan menyebabkan penurunan lingkup gerak sendi (LGS), pasien akan mengalami keterbatasan gerak yang dapat memperpanjang hari perawatan pasien di rumah sakit. Maka rumusan masalah dalam penelitian ini adalah “Apakah ada pengaruh  latihan rentang gerak sendi terhadap lingkup gerak sendi pada pasien fraktur femur post ORIF di Ruang Rawat Inap Bedah Rumah Sakit Umum Pusat dr. Mohammad Hoesin Palembang Tahun 2011?”

C.    Tujuan Penelitian
  1. Tujuan Umum
Untuk mengetahui pengaruh  latihan rentang gerak sendi terhadap lingkup gerak sendi pada pasien fraktur femur post ORIF di Ruang Rawat Inap Bedah Rumah Sakit Umum Pusat dr. Mohammad Hoesin Palembang Tahun 2011.
  1. Tujuan Khusus
a.  Untuk mengetahui distribusi fekuensi lingkup gerak sendi pasien fraktur femur post ORIF sesudah dilakukan rentang gerak sendi di Ruang Rawat Inap Bedah Rumah Sakit Umum Pusat dr. Mohammad Hoesin Palembang Tahun 2011.
b.  Untuk mengetahui pengaruh  latihan rentang gerak sendi terhadap lingkup gerak sendi pada pasien fraktur femur post ORIF di Ruang Rawat Inap Bedah Rumah Sakit Umum Pusat dr. Mohammad Hoesin Palembang Tahun 2011.

D.    Manfaat Penelitian
  1. Bagi Peneliti
Penelitian ini untuk menerapkan ilmu pengetahuan yang didapat terutama tentang keperawatan medical bedah guna menambah ilmu pengetahuan agar wawasan bertambah di masa mendatang.
  1. Bagi Pihak Rumah Sakit Umum Pusat dr. Mohammad Hoesin Palembang
Dapat dijadikan sebagai bahan pertimbangan bagi pihak rumah sakit untuk meningkatkan pelayanan rumah sakit terutama sebagai bahan informasi bagi perawat agar dapat meningkatkan kualitas asuhan keperawatan pada pasien fraktur femur.

  1. Bagi Peneliti Selanjutnya
Penelitian ini diharapkan dapat digunakan sebagai bahan acuan untuk melakukan penelitian selanjutnya yang berhubungan dengan fraktur femur.

E.     Ruang Lingkup Penelitian
Penelitian tentang pengaruh latihan rentang gerak sendi terhadap lingkup gerak sendi pada pasien fraktur femur post ORIF di Ruang Rawat Inap Bedah Rumah Sakit Umum Pusat dr. Mohammad Hoesin Palembang Tahun 2011, dimana yang diteliti adalah lingkup gerak sendi pasien sebelum dan sesudah latihan rentang gerak sendi. Subjek penelitian adalah semua pasien post operasi ORIF di Ruang Rawat Inap Bedah Rumah Sakit Umum Pusat dr. Mohammad Hoesin Palembang pada bulan September-Oktober Tahun 2011. Penelitian data primer dengan menggunakan check list untuk mengamati luas lingkup sendi digunakan alat goniometer.




























BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

A.        Konsep Dasar Fraktur
1.      Pengertian
Fraktur adalah terputusnya kontinuitas jaringan tulang. Fraktur biasa terjadi karena trauma langsung eksternal, tetapi dapat juga terjadi karena deformitas tulang misalnya fraktur patologis karena osteoporosis, penyakit paget dan osteogenesis imperfekta). (Perry & Potter, 2005)
Fraktur adalah setiap retak atau patah pada tulang yang utuh. Meskipun tulang dapat patah secara spontan seperti dalam osteomalacia dan osteomyelitis, tetapi kebanyakan fraktur diebabkan oleh trauma dimana terdapat tekanan yang berlebihan pada  tulang. (Reeves, 2001)
Fraktur adalah hilangnya kontinuitas tulang, tulang rawan, baik yang bersifat total maupun sebagian. Fraktur dikenal dengn istilah patah tulang. Biasanya disebabkan oleh trauma atau tenaga fisik. Kekuatan, sudut, tenaga, keadaan tulang, dan jaringan lunak di sekitar tulng akan menentukan apkah fraktur yang terjadi tersebut lengkap atau tidak lengkap. Fraktur lengkap terjadi apabila seluruh tulang patah, sedangkan fraktur tidak lengkap tidak melibatkan seluruh ketebalan tulang (Muttaqin, 2008).

2.      Klasifikasi Fraktur
Klasifikasi  fraktur menurut Muttaqin (2008) adalah sebagai berikut :
a.       Fraktur traumatik. Terjadi karena trauma yang tiba-tiba mengenai tulang dengan kekuatan yang besar dan tulang tidak mampu menahan trauma tersebut sehingga terjadi patah.
b.      Fraktur patologis. Terjadi karena kelemahan tulang sebelumnya akibat kelainan patologis di dalam tulang. Fraktur patologis terjadi pada daerah tulang yang telah menjadi lemah karena tumor atau proses patologis lainnya. Tulang sering kali menunjukan penurunan densitas. Penyebab yang paling sering dari fraktur-fraktur semcam ini adalah tumor, baik tumor primer maupun tumor metastesis
c.       Fraktur stress. Terjadi karena adanya trauma yang terus-menerus pada suatu tempat tertentu.
3.      Gejala Fraktur
Gejala fraktur yang paling umum adalah rasa sakit, pembengkakan, dan kelainan bentuk. Rasa sakit akan bertambah berat dengan gerakan dan penekanan di atas fraktur dan mungkin terkait juga dengan hilang fungsinya. Pembengkakan fraktur mungkin merupakan tanda awal dari kasus ini, saat pembekakan meningkat rasa sakit akan meningkat pula. Tanda spesifik yang paling banyak pada kasus fraktur adalah terjadinya kelainan bentuk (depormitas), sebagai gejala-gejala lain yang mungkin muncul dengan sprain atau strain. Gejala lain yang mungkin muncul adalah perubahan warna dan krepitasi. Tentu saja, jika terdapat luka terbuka, maka terdapat pula pendarahan dan hemorhage. (Reeves, 2001)
4.      Penyebab
Trauma musculoskeletal dapat disebabkan oleh (Mustaqqin, 2008) :
a.       Trauma langsung.
Trauma langsung menyebabkan tekanan langsung pada tulang hal tersebut dapat mengakibatkan terjadinya fraktur pada daerah tekanan. Fraktur yang terjadi bisanya bersifat kominutif dan jaringan lunak ikut mengikuti kerusakan.
b.      Trauma tidak langsung. Apabila trauma dihantarkan ke daerah yang lebih jauh dari daerah fraktur, trauma tersebut disebut dengan trauma tidak langsung misalnya, jatuh dengan tangan ekstensi dapat menyebabkan fraktur pada klavikula. Pada keadaan ini biasanya jaringan lunak tetap utuh.
5.      Faktor Penyembuhan Fraktur
Faktor-faktor yang menentukan lama penyembuhan fraktur adalah sebagai berikut (Muttaqin, 2008) :
a.       Usia  penderita
Waktu penyembuhan tulang anak-anak jauh lebih cepat dari pada orang dewasa. Hal ini terutama disebabkan aktifitas proses osteogenesis pada periosteum dan endosteum serta proses pembentukan tulang pada bayi sangat aktif. Apabila usia bertambah proses terebut semakin berkurang.
b.      Lokalisasi dan Konfigurasi fraktur
Lokalisasi fraktur memegang peranan penting. Penyembuhan fraktur metafisis lebih cepat dari fraktur diafisis. Disamping itu, konfigurasi fraktur seperti fraktur tranversal lebih lambat penyembuhannya dibandingkan dengan fraktur obliq karena kontak yang lebih banyak.
c.       Pergeseran awal fraktur
Pada fraktur yang periosteumnya tidak bergeser, penyembuhannya dua kali lebih cepat dibandingkan dengan fraktur yang bergeser.
d.      Vakularisasi pada kedua fragmen. Apabila kedua fragmen mempunyai vaskularisasi yang baik, penyembuhan tanpa komplikasi bila salah satu sisi fraktur memiliki vakularisasi yang jelek sehingga mengalami kematian pembentukan union akan terhamat atau mungkin terjadi non union.
e.       Reduksi serta immobilisasi
Reposisi fraktur akan memberikan kemungkinan untuk vaskularisasi yang lebih baik dalam bentuk asalnya. Immobilisasi yang sempurna akan mencegah pergerakan dan kerusakan pembuluh darah yag menganggu penyembuhan fraktur.
f.       Fraktur immobilisasi bila immobilisasi tidak dilakukan sesuai waktu penyembuhan sebelum terjadi union, kemungkinan terjadinya non-union sangat besar.
g.      Ruangan diantara kedua fragmen serta interposisi jaringan lunak. Adanya interposisi jaringan, baik berupa periosteum maupun otot jaringan fibrosa lainnya akan menghambat vaskularisasi kedua ujung fraktur.
h.      Fraktur adanya infeksi dan keganasan lokal.
i.        Cairan sinovial. Cairan sinovial yang terdapat pada persendian merupakan hambatan dalam penyembuhan fraktur.
j.        Gerakan aktif dan pasif pada anggota gerak. Gerakan aktif dan pasif pada  anggota gerak akan meningkatkan vaskularisasi daerah fraktur, akan tetapi, gerakan yang dilakukan pada daerah fraktur tanpa immobilisasi yang baik juga akan mengganggu vaskularisasi.
6.      Penatalaksanaan
Manajemen terapeutik dari fraktur diarahkan pada pelurusan kembali fragmen tulang, immobilisasi untuk mempertahankan pelurusan kembali dengan benar dan perbaikan fungsi. (Reeves, 2001)
a.       Pembidaian
Bagian yang sakit harus di immobilissi dengan menggunakan bidai pada tempat yang luka sebelum memindahkan pasien. Pembidaian mencegah luka dan nyeri yang lebih jauh dan mengurangi kemungkinan adanya komplikasi seperti sindrom emboli lemak
b.      Gips
Pemberian gips merupakan perawatan utama setelah reduksi tertutup dalam perbaikan fraktur dan dapat dilakukan bersamaan dengan perawatan lainnya. Tujuannya mencegah bergeraknya tulang dan jaringan sampai bagian ini sembuh. Gips pada kaki atau tungkai, jari kaki biasanya dibiarkan terbuka untuk mencegah pembengkakan (edema). (Ester, 2005)
c.       Traksi
Traksi adalah upaya mengunakan kekuatan tarikan untuk meluruskan dan immobilisasi fragmen tulang mengendorkan spasmus otot dan memperbaiki kontraktur fleksi, kelainan bentuk dan dislokasi. Traksi akan efektif jika menggunakan beban, katrol dan perimbangan untuk memproleh kekuatan yang cukup dalam menghalangi pakaian kerja tertarik  dari otot pasien.
d.      Open Reduction Internal Fixation (ORIP)
ORIP adalah fiksasi internal dengan pembedahan terbuka akan mengimmobilisasi fraktur dengan melakukan pembedahan untuk memasukan paku, skrup atau pin ke dalam tempat fraktur untuk memfiksasi bagian tulang yang fraktur secara bersamaan.

B.         Konsep Dasar Fraktur Femur
1.         Pengertian
Fraktur femur adalah suatu patahan pada kontinuitas struktur tulang paha yang ditandai adanya deformitas yang jelas yaitu pemendekan tungkai yang mengalami fraktur dan hambatan mobilitas fisik yang nyata. (Muttaqin, 2008)

2.         Etiologi
Fraktur femur dapat disebabkan oleh beberapa hal diantaranya adalah trauma yang paling sering adalah karena kecelakaan lalu lintas.
3.         Penatalaksanaan
Tindakan operasi pemasangan plate and screw pada tulang paha dilakukak insisi pada bagian lateral tungkai atas. Akibat terpotongnya pembuluh darah maka cairan dalam sel akan keluar ke jaringan dan menyebabkan pembengkakan. Dengan adanya ini akan menekan ujung syaraf sensoris yang akan menyebabkan nyeri. Akibatnya gerakan pada area tersebut akan terbatas oleh karena nyeri itu sendiri. Pada kasus fraktur untuk mengembalikan secara cepat maka perlu tindakan operasi dengan immobilisasi. Immobilisasi yang sering digunakan yaitu plate and screw. Untuk memasang plate and screw tersebut perlu dilakukan operasi sehingga dilakukan incisi yang menyebabkan kerusakan jaringan lunak di bawah kulit maupun pembuluh darah yang akan diikuti dengan keluarnya cairan dari pembuluh darah dan terjadi proses radang sehingga menimbulkan oedema. Proses radang ditandai dengan adanya leukosit yang meningkat dan saat keluarnya cairan dari pembuluh darah ditandai dengan adanya hemoglobin yang menurun sehingga mempengaruhi kondisi umum pasien. Adanya oedema akan dapat menekan nociceptor sehingga merangsang timbulnya nyeri. Nyeri juga timbul karena adanya luka sayatan pada saat operasi yang dapat menyebabkan ujung-ujung saraf sensoris teriritasi sehingga penderita tidak mau untuk menggerakkan daerah yang sakit. Keadaan ini apabila dibiarkan terus menerus akan menimbulkan spasme otot dan terjadi penurunan lingkup gerak sendi (LGS) yang lama kelamaan akan mengakibatkan terjadinya penurunan kekuatan otot diikuti dengan penurunan aktivitas fungsional. Pada kondisi fraktur fisiologis akan diikuti proses penyambungan. Proses penyambungan tulang menurut Apley (1995) dibagi dalam 5 fase, yaitu:
a.       Fase haematoma
Pada fase haematoma terjadi selama 1-3 hari. Pembuluh darah robek dan terbentuk haematoma di sekitar dan di dalam fraktur. Tulang pada permukaan fraktur, yang tidak mendapat persediaan darah akan mati sepanjang satu atau dua milimeter.
b.      Fase proliferasi
Pada fase proliferasi terjadi selama 3 hari sampai 2 minggu. Dalam 8 jam setelah fraktur terdapat reaksi radang akut disertai proliferasi di bawah periosteum dan di dalam saluran medula yang tertembus ujung fragmen dikelilingi jaringan sel yang menghubungkan tempat fraktur. Haematoma yang membeku perlahan-lahan di absorbsi dan kapiler baru yang halus berkembang ke dalam daerah fraktur.
c.       Fase pembentukan kalus
Pada fase pembentukan kalus terjadi selama 2-6 minggu. Pada sel yang berkembang-biak memiliki potensi untuk menjadi kondrogenik dan osteogenik, jika diberikan tindakan yang tepat sel itu akan membentuk tulang, cartilago dan osteoklas. Masa tulang akan menjadi lebih tebal dengan adanya tulang dan cartilago juga osteoklas yang disebut dengan kalus. Kalus terletak pada permukaan periosteal dan endosteal. Terjadi selama 4 minggu, tulang mati akan dibersihkan.
d.      Fase konsolidasi
Pada fase konsolidasi terjadi 3 minggu hingga 6 bulan. Tulang fibrosa atau anyaman tulang menjadi padat jika aktivitas osteoklas dan osteoklastik masih berlanjut maka anyaman tulang berubah menjadi tulang lamelar. Pada saat ini osteoklas tidak memungkinkan osteoklas untuk menerobos melalui reruntuhan garis fraktur karena sistem ini cukup kaku. Celah-celah di antara fragmen dengan tulang baru akan diisi oleh osteoblast. Perlu beberapa bulan sebelum tulang cukup untuk menumpu berat badan normal.
e.       Fase remodeling
Pada fase remodeling terjadi selama 6 minggu hingga 1 tahun. Fraktur telah dihubungkan oleh tulang yang padat, tulang yang padat tersebut akan diresorbsi dan pembetukan tulang yang terus menerus lamelar akan menjadi lebih tebal, dinding-dinding yang tidak dikehendaki dibuang, dibentuk rongga sumsum dan akhirnya akan memperoleh bentuk tulang seperti normalnya. Terjadi dalam beberapa bulan bahkan sampai beberapa tahun.


4.         Komplikasi umum post operasi
a.       Infeksi
Infeksi dapat terjadi karena penolakan tubuh terhadap implant berupa internal fiksasi yang dipasang pada tubuh pasien. Infeksi juga dapat terjadi karena luka yang tidak steril.
b.      Delayed union
Delayed union adalah suatu kondisi dimana terjadi penyambungan tulang tetapi terhambat yang disebabkan oleh adanya infeksi dan tidak tercukupinya peredaran darah ke fragmen.
c.       Non union
Non union merupakan kegagalan suatu fraktur untuk menyatu setelah 5 bulan mungkin disebabkan oleh faktor seperti usia, kesehatan umum dan pergerakan pada tempat fraktur.
d.      Avaskuler nekrosis
Avaskuler nekrosis adalah kerusakan tulang yang diakibatkan adanya defisiensi suplay darah.
e.       Mal union
Terjadi penyambungan tulang tetapi menyambung dengan tidak benar seperti adanya angulasi, pemendekan, deformitas atau kecacatan.
Komplikasi yang berhubungan dengan tindakan operasi yaitu kerusakan jaringan dan pembuluh darah pada daerah yang dioperasi karena incisi. Pada luka operasi yang tidak steril akan terjadi infeksi yang dapat menyebabkan proses penyambungan tulang dan penyembuhan tulang terlambat.
C.        Konsep Dasar Mobilisasi
1.         Pengertian
Mobilisasi atau kemampuan seseorang untuk bergerak bebas merupakan salah satu kebutuhan dasar manusia yang harus terpenuhi. Immobilisasi adalah suatu keadaan di mana individu mengalami atau berisiko mengalami keterbatasan gerak fisik. Mobilisasi dan immobilisasi berada pada suatu rentang. Immobilisasi dapat berbentuk tirah baring yang bertujuan mengurangi aktivitas fisik dan kebutuhan oksigen tubuh, mengurangi nyeri, dan untuk mengembalikan kekuatan. Individu normal yang mengalami tirah baring akan kehilangan kekuatan otot rata-rata 3% sehari (atropi disuse). Mobilisasi sangat dipengaruhi oleh sistem neuromuskular, meliputi sistem otot, skeletal, sendi, ligament, tendon, kartilago, dan saraf. (Perry & Potter, 2005)
2.         Tujuan Mobilisasi
Tujuan mobilisasi adalah memenuhi kebutuhan dasar (termasuk melakukan aktifitas hidup sehari-hari dan aktifitas rekreasi), mempertahankan diri (melindungi diri dari trauma), mempertahankan konsep diri, mengekspresikan emosi dengan gerakan tangan non verbal. (Perry & Potter, 2005)
3.         Faktor yang mempengaruhi mobilisasi:
a.       Sistem neuromuscular
b.      Gaya hidup
c.       Ketidakmampuan
d.      Tingkat energi
e.       Tingkat perkembangan
1)      Bayi: sistem muskuloskeletal bayi bersifat fleksibel. Ekstremitas lentur dan persendian memiliki ROM lengkap. Posturnya kaku karena kepala dan tubuh bagian atas dibawa ke depan dan tidak seimbang sehingga mudah terjatuh.
2)      Batita: kekakuan postur tampak berkurang, garis pada tulang belakang servikal dan lumbal lebih nyata.
3)      Balita dan anak sekolah: tulang-tulang panjang pada lengan dan tungkai tumbuh. Otot, ligamen, dan tendon menjadi lebih kuat, berakibat pada perkembangan postur dan peningkatan kekuatan otot. Koordinasi yang lebih baik memungkinkan anak melakukan tugas-tugas yang membutuhkan keterampilan motorik yang baik.
4)      Remaja: remaja putri biasanya tumbuh dan berkembang lebih dulu dibanding yang laki-laki. Pinggul membesar, lemak disimpan di lengan atas, paha, dan bokong. Perubahan laki-laki pada bentuk biasanya menghasilkan pertumbuhan tulang panjang dan meningkatnya massa otot. Tungkai menjadi lebih panjang dan pinggul menjadi lebih sempit. Perkembangan otot meningkat di dada, lengan, bahu, dan tungkai atas.
5)      Dewasa: postur dan kesegarisan tubuh lebih baik. Perubahan normal pada tubuh dan kesegarisan tubuh pada orang dewasa terjadi terutama pada wanita hamil. Perubahan ini akibat dari respon adaptif tubuh terhadap penambahan berat dan pertumbuhan fetus. Pusat gravitasi berpindah ke bagian depan. Wanita hamil bersandar ke belakang dan agak berpunggung lengkung. Dia biasanya mengeluh sakit punggung.
6)      Lansia: kehilangan progresif pada massa tulang total terjadi pada orangtua.

4.         Respon dari perubahan mobilisasi,
a.       Respon fisiologis
1)      Muskuloskeletal seperti kehilangan daya tahan, penurunan massa otot, atropi dan abnormalnya sendi (kontraktur) dan gangguan metabolisme kalsium.
2)      Kardiovaskuler seperti hipotensi ortostatik, peningkatan beban kerja jantung, dan pembentukan thrombus .
3)      Pernafasan seperti atelektasis dan pneumonia hipostatik.
4)      Metabolisme dan nutrisi antara lain laju metabolic; metabolisme karbohidrat, lemak dan protein; ketidakseimbangan cairan dan elektrolit; ketidakseimbangan kalsium; dan gangguan pencernaan (seperti konstipasi).
5)      Eliminasi urin seperti stasis urin meningkatkan risiko infeksi saluran perkemihan dan batu ginjal.
6)      Integumen seperti ulkus dekubitus adalah akibat iskhemia dan anoksia jaringan.
7)      Neurosensori: sensori deprivation
b.      Respon psikososial dari antara lain meningkatkan respon emosional, intelektual, sensori, dan sosiokultural. Perubahan emosional yang paling umum adalah depresi, perubahan perilaku, perubahan dalam siklus tidur-bangun, dan gangguan koping.

D.        Latihan Rentang Gerak
1.         Pengertian
Latihan rentang gerak dapat aktif (klien menggerakan semua sendinya dengan rentang gerak tanpa bantuan), aktif (klien tidak dapat menggerakan setiap sendi dengan rentang gerak), atau berada di antaranya. Rencana keperawatan harus meliputi menggerakan ekstremitas klien dengan rentang gerak penuh. Latihan rentang gerak pasif harus dimulai segera pada kemampuan klien menggerakan ekstremitas atau sendi menghilang. Pergerakan dilakukan dengan perlahan dan lembut dan tidak menyebabkan nyeri. Perawat jangan memaksakan sendi melebihi kemampuannya. Setiap gerakan harus diulang 5 kali setiap bagian. (Perry & Potter, 2005)
Range of Motion (ROM) adalah gerakan yang dalam keadaan normal dapat dilakukan oleh sendi yang bersangkutan. (Suratun, 2008)
Latihan ROM pasif adalah latihan ROM yang di lakukan pasien dengan bantuan perawat setiap-setiap gerakan. Indikasi latihan fasif adalah pasien semikoma dan tidak sadar, pasien dengan keterbatasan mobilisasi tidak mampu melakukan beberapa atau semua latihan rentang gerak dengan mandiri, pasien tirah baring total atau pasien dengan paralisis ekstermitas total (suratun, dkk, 2008). Rentang gerak pasif ini berguna untuk menjaga kelenturan otot-otot dan persendian dengan menggerakkan otot orang lain secara pasif misalnya perawat mengangkat dan menggerakkan kaki pasien. Latihan ROM aktif adalah Perawat memberikan motivasi, dan membimbing klien dalam melaksanakan pergerakan sendi secara mandiri sesuai dengan rentang gerak sendi normal. Hal ini untuk melatih kelenturan dan kekuatan otot serta sendi dengan cara menggunakan otot-ototnya secara aktif .
2.         Tujuan ROM
a.       Mempertahankan atau memelihara kekuatan otot.
b.      Memelihara mobilitas persendian
c.       Merangsang sirkulasi darah
d.      Mencegah kelainan bentuk
3.         Perinsip Dasar Latihan ROM
a.       ROM harus diulang sekitar 8 kali dan dikerjakan minimal 2 kali sehari.
b.      ROM di lakukan berlahan dan hati-hati sehingga tidak melelahkan pasien.
c.       Dalam merencanakan program latihan ROM, perhatikan umur pasien, diagnosa, tanda-tanda vital dan lamanya tirah baring.
d.      Bagian-bagian tubuh yang dapat di lakukan latihan ROM adalah leher, jari, lengan, siku, bahu, tumit, kaki, dan pergelangan kaki.
e.       ROM dapat di lakukan pada semua persendian atau hanya pada bagian-bagian yang di curigai mengalami proses penyakit.
f.       Melakukan ROM harus sesuai waktunya. Misalnya setelah mandi atau perawatan rutin telah di lakukan.
4.         Manfaat ROM
a.       Memperbaiki tonus otot
b.      Meningkatkan mobilisasi sendi
c.       Memperbaiki toleransi otot untuk latihan
d.      Meningkatkan massa otot
e.       Mengurangi kehilangan tulang
5.         Post operatif fraktur femur
Teori Oswari, (2000), yang mengatakan bahwa setelah  3-4 hari pasien post operasi fraktur femur harus mampu meninggalkan tempat tidur jika pasien terlalu selalu takut untuk melakukan mobilisasi maka proses penyembuhan akan lama jadi untuk mengatasi hal ini peran perawat sangat di butuhkan agar pasien mau dan tidak menolak untuk melakukan mobilisasi. Mobilisasi dasar dapat di mulai melalui bantu pasien melakukan rentang gerak sendi (ROM pasif), minta pasien untuk melakukan rentang gerak sendi secara mandiri (ROM aktif), dan Rentang gerak fungsional berguna untuk memperkuat otot-otot dan sendi dengan melakukan aktifitas yang diperlukan. Pasien dapat berjalan mengunakan alat Bantu Pin, sekrup dan batang yang di gunakan sebagai fiksasi interna di rancang untuk dapat mempertahankan posisi tulang sampai terjadi penulangan. Alat-alat tersebut di rancang tidak untuk menahan berat badan dan dapat melengkung, longgar, patah bilah mendapat beban stres.
6.         ROM pasif post operasi fraktur femur
Teori Oswari (2000), perawat membantu pasien pasca operatif fraktur femur melakukan Latihan ROM pasif dan menganti posisi akan meningkatkan aliran darah ke ekstermitas sehingga stasis berkurang. kontraksi otot kaki bagian bawah akan meningkatkan aliran balik vena sehingga mempersulit terbentuknya bekuan darah. perawat membantu pasien melakukan latihan ini setiap 2 jam sekali saat klien terjaga. perawat membantu pasien pascaoperatif fraktur femur melakukan Latihan ROM pasif dengan cara atur posisi pasien terlentang, rotasikan kedua pergelangan kaki membentuk lingkaran penuh, lakukan dorsofleksi dan flantar fleksi secara bergantian pada kedua kaki klien, lanjutkan latihan dengan melakukan fleksi dan ekstensi lutut cecara bergantian, mengangkat kedua telapak kaki klien secara tegak lurus dari permukaan tempat tidur secara bergantian.
Menurut Suddarth & Brunner, (2002) latihan ini di lakukan untuk mengurangi efek imobilisasi pada pasien di lakukan ROM pasif dengan latihan isometrik otot-otot di bagian yang di imobilisasi  latihan kuadrisep dan latihan gluteal dapat membantu mempertahankan kelompok otot besar yang penting untuk berjalan. Latihan aktif dan beban berat badan pada bagian tubuh yang tidak mengalami cedera dapat mencegah terjadinya atrofi otot.

7.         ROM aktif post operasi fraktur femur
Pasien yang telah dilakukan operasi fraktur femur seringkali dapat menimbulkan permasalahan adanya luka operasi pada jaringan lunak dapat menyebabkan proses radang akut dan adanya oedema dan fibrosis pada otot sekitar sendi yang mengakibatkan keterbatasan gerak sendi terdekat.Latihan rentang gerak sendi merupakan hal sangat penting bagi pasien sehingga setelah operasi fraktur femur, pasien dapat segera melakukan berbagai pergerakan yang di perlukan untuk pempercepat proses penyembuhan. Keluarga pasien seringkali mempunyai pandangan yang keliru tentang pergerakan pasien setelah operasi. Banyak pasien yang tidak berani mengerakan tubuh karena takut jahitan operasi sobek atau takut luka operasinya lama sembuh. pandangan yang seperti ini jelas keliru karena justru jika pasien selesai operasi dan segera bergerak maka pasien akan lebih cepat merangsang peristaltik usus sehingga pasien cepat platus, menghindarkan penumpukan lendir pada saluran pernapasan dan terhindar dari kontraktur sendi, memperlancar sirkulasi untuk mencegah stasis vena dan dekubitus. Menurut Garrison, (2002) pedoman perawatan pasca bedah fraktur femur Sering kali di perlukan intervensi bedah ORIF dengan mengunakan sekrup dan plate pada hari ke 2-3 latihan aktif (ROM) yang di bantu dapat dimulai dari bidang anatomi yang normal, pada hari ke 4 berjalanlah pada cara berjalan tiga titik dengan  kruk axilla pembantu berjalan standar dan kemudian penahan berat badan sesuai toleransi.



























BAB III
KERANGKA KONSEP

A.        Kerangka Konsep
Berdasarkan tinjauan pustaka yang telah dibahas sebelumnya bahwa Menurut Perry & Potter (2005) pasien fraktur femur post operasi ORIF mempunyai keterbatasan gerakan atau klien yang mengalami gangguan mobilisasi aktual atau potensial maka perawat menyusun intervensi yang langsung mempertahankan mobilisasi sendi maksimum. Salah satu intervensi keperawatan adalah latihan rentang gerak guna meningkatkan mobilisasi sendi. Maka mengacu pendapat tersebut kerangka konsep dalam penelitian ini seperti tercantum pada bagan I berikut ini:
Bagan I
Kerangka Konsep Penelitian

 

















21
 
 

B.         Definisi Operasional

No
Variabel
Definisi Operasional
Cara Ukur
Alat Ukur
Hasil Ukur
Skala Ukur
1.
LGS pada pasien fraktur femur
Besarnya gerakan maksimum yang dapat dicapai oleh sendi. Dengan satuan (derajat)
Pengu-kuran
Gonio-meter
Diukur rentang gerak sendi yang mampu dilakukan pasien
1.  Pangkal Paha
·    Fleksi = 90O-120O
·    Ekstensi = 90O-120O
2.  Lutut
·    Fleksi = 120O-130O
·    Ekstensi = 120O-130O
Interval



C.        Hipotesis
Ada pengaruh rentang gerak dengan fungsi mobilisasi pada pasien fraktur femur post ORIF di Ruang Rawat Inap Bedah Rumah Sakit Umum Pusat dr. Mohammad Hoesin Palembang Tahun 2011.








































































 
BAB IV
METODE PENELITIAN

A.    Desain Penelitian
Penelitian ini merupakan penelitian Eksperimen Semu (Quasi Eksperiment) yang bertujuan untuk mengetahui suatu gejala atau pengaruh yang timbul, sebagai akibat dari adanya perlakuan tertentu (Notoadmodjo, 2010). Desain penelitian yang digunakan adalah rancangan ”Non-Equivalent Control Group”. Rancangan penelitian ini lebih dimungkinkan untuk membandingkan hasil intervensi suatu program kesehatan yang serupa, tetapi tidak perlu kelompok yang benar-benar sama, dan pengelompokan sampel pada kelompok intervensi maupun kelompok kontrol tidak dilakukan secara random atau acak.
Pada penelitian ini, peneliti akan melakukan studi tentang pengaruh latihan rentang gerak sendi terhadap lingkup gerak sendi pada pasien fraktur femur post operasi ORIF di Instalasi Rawat Inap Bedah Rumah Sakit Umum Pusat Dr. Mohammad Hoesin Palembang Tahun 2011. Subjek penelitian akan dibagi menjadi dua kelompok yaitu Kelompok ROM Pasif dan Kelompok ROM Aktif. Untuk Kelompok ROM Pasif diberikan perlakuan berupa latihan rentang gerak sendi, setelah itu dilakukan pengukuran lingkup gerak sendi dengan menggunakan goniometer. Sedangkan pada kelompok ROM Aktif tidak diberikan perlakuan latihan rentang gerak sendi, tetapi dilakukan pengukuran lingkup gerak sendi dengan menggunakan goniometer. Bentuk rancangan ini dapat digambarkan sebagai berikut:
Gambar 4.1
Rancangan Penelitian Non-Equivalent Control Group
                                                   Perlakuan                                 Post test
     R         latihan Rentang Gerak       02
                                 Pasif

     R         latihan Rentang Gerak       02
                                 Aktif

 
 

Kelompok ROM Pasif

Kelompok ROM Aktif

Sumber : Sugiyono, 2011
24
 
 

B.     Populasi dan Sampel
  1. Populasi
Populasi dalam penelitian ini adalah semua pasien fraktur femur yang telah menjalani operasi ORIF dirawat di Instalasi Rawat Inap Bedah RSUP Dr. Mohammad Hoesin Palembang pada tahun 2010 sebanyak 417 orang.
  1. Sampel
Penentuan jumlah sampel pada penelitian ini diambil dengan determinasi minimal dilihat dari jumlah rata-rata pasien perbulan pada tahun sebelumnya, dimana pada tahun 2010 jumlah pasien seluruhnya berjumlag 417 orang jadi rata-rata pasien perbulan adalah 34 orang. Sampel dibagi menjadi dua kelompok yaitu kelompok ROM aktif dan kelompok ROM pasif.
Menurut Nursalam (2008) bahwa sampel adalah bagian dari populasi yang diteliti. Agar hasil dapat dianalisa dengan uji statistik untuk penelitian kuantitatif, jumlah sampel minimal 30 sampel. Maka dalam penelitian ini didapatkan sampel minimal yaitu 30 responden yang dibagi dalam 2 kelompok yaitu kelompok ROM pasif sebanyak 15 orang dan kelompok ROM aktif sebanyak 15 orang.

C.    Tempat dan Waktu Penelitian
  1. Tempat Penelitian
Penelitian ini dilakukan di Instalasi Rawat Inap Bedah RSUP Dr. Mohammad Hoesin Palembang.
  1. Waktu Penelitian
Penelitian ini dilakukan pada tanggal 17 Oktober sampai dengan 31 Oktober Tahun 2011.

D.    Etika Penelitian
Sebelum dilakukan tindakan, peneliti  menjelaskan tujuan penelitian kepada responden, selanjutnya calon resonden diminta kesediaannya untuk menjadi responden dengan menandatangani format persetujuan dalam penelitian ini.

E.     Pengumpulan Data
  1. Sumber Data
a.       Data Primer
Data primer diperoleh melalui observasi peneliti. Data primer berupa data latihan rentang gerak pasien dan fungsi mobilisasi pasien.
b.      Data Sekunder
Data sekunder diambil dari catatan medical record Rumah Sakit Umum Pusat dr. Mohammad Hoesin Palembang, selain itu data penunjang diambil dan buku-buku dan juga internet.
  1. Teknik Pengumpulan Data
Pengumpulan data dengan cara melakukan observasi terhadap lingkup gerak sendi pasien dan melakukan pengukuran lingkup gerak sendi pasien dengan menggunakan goniometer.
3.      Prosedur Pengumpulan Data
a)      Izin kepala ruangan
b)      Menentukan sampel yang memenuhi kriteria inklusi.
c)      Membagi sampel menjadi 2 kelompok yaitu 15 orang kelompok ROM pasif dan 15 orang kelompok ROM aktif.
d)     Menjelaskan tujuan penelitian kepada responden, selanjutnya calon resonden diminta kesediaannya untuk menjadi responden dengan menandatangani format persetujuan dalam penelitian ini.
e)      Peneliti mengobservasi keadaan umum pasien dan mengukur tanda-tanda vital sebelum latihan rentang gerak sendi pada kelompok ROM pasif.
f)       Melakukan latihan rentang gerak sendi pada hari ketiga post operasi ORIF di mana pasien dibimbing dan dilakukan latihan rentang gerak pada kaki yang dioperasi. Dilakukan sebanyak 3 hari (2 kali sehari).
g)      Mengukur lingkup gerak sendi dengan menggunakan goniometer pada hari ketujuh pada daerah sendi lutut dan pangkal paha.






F.     Teknik Pengolahan Data
Adapun tahapan dalam pengolahan data menurut Hastono (2001) yaitu:
  1. Editing (pengeditan)
Meneliti apakah jawaban pada lembar kuesioner sudah cukup baik sehingga dapat diproses lebih lanjut. Editing dapat dilakukan di tempat pengumpulan data sehingga jika terjadi kesalahan maka upaya perbaikan dapat segera dilakukan.
  1. Coding (pengkodean)
Merupakan kegiatan merubah data berbentuk huruf menjadi data berbentuk angka / bilangan. Kegunaan koding adalah untuk mempermudah saat analisis data juga mempercepat pada saat memasukan data (entry) data.
  1. Entri (Pemasukan Data)
Memasukan data ke dalam bentuk tabel.
  1. Cleaning (pembersihan data)
Data yang telah dimasukan ke dalam tabel diperiksa kembali untuk mengkoreksi kemungkinan kesalahan kemudian diuji kebenarannya.

G.    Metode analisa data
Metode analisis data yang dipergunakan dalam penelitian ini adalah analisis univariat dan bivariat.
1.         Analisis Univariat
Pada analisis univariat semua data yang terkumpul disajikan dalam bentuk nilai tendensi sentral (mean, median) dan nilai sebaran (standard deviasi, minimum dan maksimum) selanjutnya akan dianalisa variable yang diteliti.
2.         Analisis Bivariat
Analisis bivariat dilakukan untuk mengidentifikasi hubungan variabel bebas dan variabel terikat. Data pada penelitian ini adalah data numerik. Untuk membedakan lingkup gerak sendi pada kelompok ROM pasif dan aktif uji statistik yang digunakan adalah uji T-test independen dengan tingkat kemaknaan 95% (α 0,05), dengan  syarat atau asumsi yang harus dipenuhi adalah sebagai berikut :
a.    Data berdistribusi normal/simetris.
b.   Kedua kelompok data independent.
c.    Variabel yang dihubungkan berbentuk numerik dan kategori (ket: variabel kategorik dengan hanya dua kelompok).
Akan tetapi bila diketahui distribusi data tidak normal, maka digunakan pendekatan uji nonparametrik dengan alternatif uji yang digunakan adalah uji Mann-Witney (Hidayat, 2007).































 
BAB V
HASIL PENELITIAN

A.    Gambaran Umum Rumah Sakit Umum Pusat Dr. Mohammad Hosein Palembang
1.      Sejarah
Rumah Sakit Umum Pusat (RSUP) Dr. Mohammad Hosein Palembang terletak di pusat kota Palembang dengan bangunan seluas 21850 m2, pada mulanya merupakan Rumah Sakit Umum Palembang yang dibangun pada tahun 1953 dan dibiayai oleh pemerintah pusat atas prakarsa Menteri kesehatan RI Dr. Moehammad Ali (Dr. Lei Kiat Teng) dengan biaya Pemerintah Pusat. Pada tanggal 03 Januari 1957 rumah sakit ini mulai operasional yang dapat melayani masyarakat seSumBagSel. Dimana saat itu meliputi Provinsi Sumatera Selatan, Lampung, Jambi, Bengkulu, dan Bangka Belitung. RSUP Dr. Moehammad Hoesin Palembang baru memiliki pelayanan rawat jalan dan rawat inap (fasilitas 78 tt) beberapa waktu kemudian memiliki pelayanan Laboratorium, Apotik, Radiologi, Emergency dan peralatan penunjang medik lainnya.
Seiring dengan perkembangan waktu rumah sakit ini semakin berkembang baik fasilitas, sarana dan prasarana. Sumber daya manusia tersedia para spesialis lengkap dan beberapa subspesialis sehingga mengubah tifenya dari kelas C menjadi Rumah Sakit Umum Pusat Tipe B dan menjadi rumah sakit terbesar dan sebagai pusat rujukan layanan kesehatan se Sumatera Selatan, Jambi, Bengkulu, Lampung, dan Bangka Belitung. Tahun 1993 – 1994 RSUP Palembang mengubah status dari RS Vertikal (RS Penerima Negara Bukan Pajak) menjadi RS Swadana sesuai SK Menkes RI No. 1279 / Menkes / SK / XI / 1997; RSUP Palembang resmi bernama RSUP Dr. Moh. Hoesin Palembang.
29
 
Dengan UU No. 20/1997, Menjadi Rumah Sakit Instansi penggunaan PNBP, dimana rumah sakit dapat memanfaatkan dana dari hasil pendapatan sesuai dengan anggaran yang diproyeksikan rumah sakit dan diselaraskan dengan pendapatan melalui prosedur KPKN disamping itu subsidi Pemerintah tetap seperti sedia kala.
Tahun 2000 dengan PP No. 122/2000 RSUP Dr. Moh Hoesin Palembang di tetapkan menjadi salah satu dari 13 rumah sakit pemerintah menjadi rumah sakit Perusahaan Jawatan di Indonesia dan operasionalnya dimulai tanggal 01 Januari 2002. Sebagai Rumah Sakit Perjan secara operasional RSMH Palembang masih tetap melaksanakan fungsi pelayanan sosialnya bagi masyarakat ekonomi kurang mampu melalui program JPSBK (GAKIN), sejak tahun 2005 dikelola oleh PT. ASKES Indonesia menjadi program ASKESKIN. Kemudian pada tahun 2005 berdasarkan PP 23 / 2005 Tanggal 13 Juni 2005 tentang Pengelolaan Keuangan Badan Layanan Umum dengan SK Menkes RI No. 1243 / Menkes / SK / VIII / 2005, Tanggal 11 Agustus 2005 tentang penetapan 13 eks Rumah Sakit Perjan statusnya menjadi unit pelaksana teknis DepKes RI dengan menerapkan pola Pengelolaan Keuangan Badan Layanan Umum. Implementasinya RSUP Dr. Moh. Hosein Palembang sebagai Badan Layanan Umum dilaksanakan pada Januari 2006 .
Sejalan dengan kebijakan DepKes RI bahwa semua rumah sakit di Indonesia harus terakreditasi, maka RSUP Dr. Moh. Hoesin Palembang telah dilakukan akreditasi oleh Komite Akreditasi Rumah Sakit (KARS) dan dinyatakan lulus dengan diterbitkan sertifikat oleh DepKes RI tetapi sudah ada kabar bahwa RSUP Dr.Mohammad Hoesin Palembang telah dinyatakan lulus terakreditasi penuh tingkat lanjut sehingga RSUP Dr.Mohammad Hoesin Palembang telah memenuhi standar pelayanan rumah sakit yang meliputi 16 pelayanan RS, yaitu : administrasi manajemen, pelayanan medis, pelayanan gawat darurat, pelayanan keperawatan, rehabilitasi medik, farmasi, Keselamatan Kecelakaan Kerja (K3), radiologi, laboratorium, kamar operasi, pengendalian Infeksi di RS, perinatologi resiko tinggi, pelayanan rehabilitasi medik, pelayanan gizi, pelayanan intensif dan pelayanan darah.
2.      Sarana dan Prasarana
RSUP Dr. Moh. Hoesin terletak di Jl. Jenderal Sudirman KM. 3,5 Palembang (Pusat Kota Arah Timur) di Ibu Kota Propinsi Sumatera Selatan, yang mempunyai fasilitas dan kemampuan menyelenggarakan berbagai jenis pelayanan spesialis dan sub spesialis dan menjadi pusat layanan rujukan di wilayah Sumatera Bagian Selatan dengan luas lahan 216.850 M2 dan luas bangunan (lantai I, II, III) 48.190,4 M 2, luas prasarana bangunan 38.958,78 M2, luas bangunan Mesjid/Mushola 288,00 M2 , luas bangunan rumah dinas dan mes 5.585,50 M2 , sedangkan luas lahan selebihnya digunakan untuk bangunan gedung instansi kesehatan lainnya serta lahan yang masih kosong.
Saat ini sudah tersedia gedung baru 3 lantai yang diperuntukkan untuk orang Intensif Care, CSSD, COT dan ruangan pendidikan yang selesai pada awal tahun 2006 dari proyek APBN tahun 2004-2005. Sedangkan untuk fasilitas peralatan sarana berasal dari KFW Germany (LOAN) yang saat ini masih dalam proses pengadaan.
3.      Keunggulan RSUP Dr.Mohammad Hoesin
Rumah Sakit Umum Dr.Mohammad Hoesin Palembang merupakan rumah sakit pendidikan bagi Fakultas Kedokteran Universitas Sriwijaya dan pusat rujukan untuk daerah Jambi, bengkulu, Lampung, Sumatera Selatan dan Bangka Belitung yang merupakan Rumah Sakit terbesar yang berlokasi di daerah Sumatera bagian Selatan, sehingga mempunyai peranan cukup besar dalam menunjang pelayanan kesehatan dan mempunyai unggulan pelayanan di bidang Cardio Vaskular  dan kegawat daruratan.
4.      Visi, Misi dan Tujuan RSUP Dr. Moehammad Hoesin Palembang
Visi RSUP Dr. Moehammad Hoesin adalah “Menjadi Rumah Sakit Pusat Pelayanan  Kesehatan,  Pendidikan  dan  Penelitian  Terbaik  Bermutu  Se-Sumatera “.
Misi RSUP Dr. Moehammad Hoesin Palembang :
a.       Menyelenggarakan pelayanan kesehatan yang komprehensif dan berkualitas tinggi.
b.      Menyelenggarakan jasa pendidikan dan penelitian dalam bidang kedokteran dan kesehatan.
c.       Menjadi pusat promosi kesehatan.
Motto “ Kesembuhan dan kepuasan anda merupakan kebahagiaan kami ”.





B.     Gambaran Umum Instalasi Rawat Inap Bedah
1.      Sejarah
Berdasarkan Keputusan Menteri Kesehatan RI. No. 134 / Menkes/SKW/1978 tanggal 28 April 1978 dimana Instalasi Rawat Inap Bedah Sebelumnya bernama unit fungsional (Unit Bedah ) yang berada dibawah koordinasi Direktur Pelayanan Medik dan Keperawatan.
Sejarah Kepemimpinan UPF Bedah Yaitu :
a.       Dr. Irsan P Rajamin DSB (1957-1979)
b.      Dr. Seno Sutejo, DSB (1979-1989)
c.       Dr. Soeryanto Soedarmo, BSSD (1989-1995)
Kemudian berdasarkan SK. Menteri Kesehatan RI No. 549/Menkes/SK/VI/1994 tanggal 13 Juni 1994. Pada tahun 1995 berubah menjadi Instalasi Rawat Inap Bedah Dewasa yang dipimpin oleh :
d.      dr. M. Yasin (1995-2001)
e.       Zr. Susilawati, S.Sos, MM (2001-2003)
Pada tahun 2003 dirubah menjadi Instalasi Rawat Inap Bedah yang dipimpin oleh :
f.       Drs. Abdul Rozak (2003-2008)
g.      Nur Aryati, SKp. M.Kes (Sept 2008-Feb 2009)
h.      Hj. Siti Sakdiah SKM (Feb 2009-sekarang)
Instalasi Rawat Inap Bedah Dewasa merupakan fasilitas yang melakukan Kegiatan pelayanan rawat inap yaitu :
a.       Rawat Inap Bedah   meliputi Bedah Umum, Bedah plastik,  Bedah Orthopedi, Bedah syaraf, Bedah Gigi dan Mulut, Bedah Onkologi, Bedah Urologi, Bedah Digestif dan Bedah Thorak.
b.      Rawat Inap Penyakit Mata
c.       Rawat Inap Penyakit THT, Dibentuk pada tahun 1995 berdasarkan Surat Keputusan Menteri Kesehatan RI No. 549/Menkes/SK/VI/1994 tanggal l3 Juni 1994.
2.      Visi, Misi, Falsafah dan Motto
Visi Instalasi Rawat Inap Bedah adalah menjadi Instalasi Rawat Inap bedah (Bedah, THT dan Mata) yang terbaik dan bermutu sesumatera dalam bidang pelayanan, pendidikan dan penelitian.
Misi
a.       Memberikan pelayanan rawat inap bedah ( Bedah, THT dan mata ) yang komprehensif
b.      Mempersiapkan tenaga sumber daya manusia yang professional Menyiapkan fasilitas kesehatan sesuai standard
c.       Menyiapkan fasilitas kesehatan sesuai standar
d.      Melaksanakan promosi kesehatan Rumah Sakit

Falsafah
Instalasi Rawat Inap bedah memunyai falsafah yaitu memberikan pelayanan terbaik bagi pasien-pasien bedah dan memberikan rasa nyaman kepada pasien.

3.      Sumber Daya Manusia
Data ketenagaan di Instalasi Rawat Inap Bedah berdasarkan pendidikan dapat dilihat pada tabel 5.1 berikut ini :
Tabel 5.1
Data Ketenagaan di Instalasi Rawat Inap Bedah Tahun 2010

Pendidikan
RKB A
RKB B
RKB C
RB D
RB E
RB F
RB G
THT
RPK
JML
PENDIDIKAN










S1 Kep
-
2
1
1
3
-
1
-
1
9
S1 Kes Mas
1
1
2
1
1
-
-
-
1
8
S1 Ekonomi
-
-
-
-
1
-
-
-
-
2
S1 Sosial
-
-
1
-
-
-
-
-
-
1
D4 Keperawatan
1
-
-
-
-
-
1
-
1
3
D3 Keperawatan
11
10
12
14
17
13
13
12
12
114
SPR
-
-
-
2
-
-
-
-
-
2
SPK
-
-
-
1
-
-
-
-
-
1
SPRG
1
-
-
-
-
-
-
-
-
1
D3 Gigi
-
-
-
-
-
-
1
-
1
2
SLTA
4
4
3
3
3
4
4
2
3
30
SD
1
1
1
1
1
-
-
-
1
6
TOTAL
18
18
21
23
27
17
19
14
19
179
Sumber : Profil IRNA Bedah RSUP Dr. Mohammad Hoesin Palembang (2010)









4.      Sarana Kesehatan
Instalasi Rawat lnap Bedah memiliki jumlah tempat tidur : 279 tempat tidur, dengan perinciannya dapat dilihat pada tabel 5.2 berikut ini :


Tabel 5.2
Fasilitas Ruang Perawatan Instalasi Rawat Inap Bedah Rumah Sakit Umum Pusat Dr.Mohammad Hoesin Palembang tahun 2010

No
Ruang
Tempat Tidur
Instrumen Perawatan Luka
1
RKB A
17
3 set
2
RKB B
17
3 set
3
RKB C
22
3 set
4
RB D
32
4 set

Luka B
9
3 set
5
RB E
35
5 set
6
RB F
41
3 set
7
RB G
34
2 set
8
THT
17
3 set
9
RPK
55
3 set

Jumlah
279
32 set


C.    Analisis Univariat
Hasil analisis univariat yang dibuat berdasarkan variabel distribusi frekuensi dan persentase dengan 15 pasien fraktur femur post operasi ORIF di Instalasi Rawat Inap Bedah RSUP dr. Mohammad Hoesin Palembang Tahun 2011. Analisis ini dilakukan terhadap variabel lingkup gerak sendi pada kelompok pasien ROM pasif dan ROM aktif.
1.      Lingkup Gerak Sendi Pada Pasien Fraktur Femur Post Operasi Orif Kelompok ROM Aktif
Distribusi frekuensi lingkup gerak sendi pada pasien fraktur femur post operasi ORIF pada kelompok ROM aktif  dapat dilihat pada tabel 5.3 berikut ini :










Tabel 5.3
Distribusi Frekuensi  Lingkup Gerak Sendi Pada Pasien Fraktur Femur Post Operasi ORIF Kelompok ROM Aktif  Di Instalasi Rawat Inap Bedah RSUP Dr. Mohammad Hoesin Palembang Tahun 2011

No.
Lingkup Gerak Sendi
Frekuensi
Persentase
1.
30
1
6,7
2.
35
2
13,3
3.
40
3
20,0
4.
45
2
13,3
5.
50
4
26,7
6.
55
2
13,3
7.
56
1
6,7

Jumlah
15
100

Berdasarkan tabel 5.3 dapat dilihat bahwa lingkup gerak sendi pada pasien fraktur femur kelompok ROM Aktif didapatkan LGS terbesar adalah 56o sebanyak 1 orang (6,7%), sedangkan yang terkecil adalah 30o sebanyak 1 orang (6,7%).

2.      Lingkup Gerak Sendi Pada Pasien Fraktur Femur Post Operasi Orif Kelompok ROM Pasif
Distribusi frekuensi lingkup gerak sendi pada pasien fraktur femur post operasi ORIF pada kelompok ROM Pasif  dapat dilihat pada tabel 5.4 berikut ini :
Tabel 5.4
Distribusi Frekuensi  Lingkup Gerak Sendi Pada Pasien Fraktur Femur Post Operasi ORIF Pada Kelompok ROM Pasif  Di
Instalasi Rawat Inap Bedah RSUP Dr. Mohammad Hoesin Palembang Tahun 2011

No.
Lingkup Gerak Sendi
Frekuensi
Persentase
1.
40
2
13,3
2.
45
3
20,0
3.
50
2
13,3
4.
55
2
13,3
5.
60
5
33,3
6.
75
1
6,7

Jumlah
15
100

Berdasarkan tabel 5.4 dapat dilihat bahwa lingkup gerak sendi pada pasien fraktur femur kelompok ROM Pasif didapatkan LGS terbesar adalah 75o sebanyak 1 orang (6,7%), sedangkan yang terkecil adalah 40o sebanyak 2 orang (6,7%).

D.    Analisis Bivariat
Analisis ini dilakukan untuk melihat perbedaan rata-rata lingkup gerak sendi pada pasien fraktur femur post operasi ORIF kelompok ROM Aktif dan kelompok ROM Pasif di mana batas kemaknaan α = 0,05 (Confidence Interval 95%), bila p value < α = 0,05 maka Ho ditolak, artinya ada perbedaan rata-rata lingkup gerak sendi pada pasien fraktur femur post operasi ORIF kelompok ROM Aktif dan kelompok ROM Pasif.
1.      Pengaruh Latihan Rentang Gerak Sendi Terhadap Lingkup Gerak Sendi Pada Pasien Fraktur Femur Post Operasi Orif
Dilakukan uji perbedaan lingkup gerak sendi pada pasien post operasi ORIF pada kelompok ROM Aktif dan kelompok ROM Pasif, seperti pada tabel 5.5 berikut ini:

Tabel 5.5
Distribusi Rata-Rata Latihan Rentang Gerak Sendi Terhadap Lingkup Gerak Sendi Pada Pasien Fraktur Femur Post ORIF di Instalasi Rawat Inap Bedah RSUP dr. Mohammad Hoesin Palembang Tahun 2011

LGS ROM Pasif

Mean
N
Std. Deviation
Std. Error Mean
ROM Aktif
45.07
15
8,111
2.094
ROM Pasif
53.33
15
9,574
2.472

Berdasarkan tabel diatas dapat dilihat nilai rata-rata lingkup gerak sendi pada pasien post operasi ORIF pada kelompok ROM Aktif adalah 45,07 derajat dengan standar deviasi 8,111 derajat. Sedangkan nilai rata-rata lingkup gerak sendi pada pasien post operasi ORIF pada kelompok ROM Pasif adalah 53,33 derajat dengan standar deviasi 9,574 derajat.













Tabel 5.6
Pengaruh Latihan Rentang Gerak Sendi Terhadap Lingkup Gerak Sendi Pada Pasien Fraktur Femur Post ORIF di Instalasi Rawat Inap Bedah RSUP dr. Mohammad Hoesin Palembang  Tahun 2011


Paired differences
t
df
Sig. (2-tailed)
Mean
Std. error mean
95% Confidence Interval of the Difference
Lower
Upper
LGS ROM
Equal variance assumed
8,267
3,240
1,630
14,903
2.522
28
.016
Equal variance assumed
8,267
3,240
1,622
14,911
2.522
27.263
.017

Hasil uji statistik didapatkan nilai p = 0,016, maka dapat disimpulkan ada perbedaan yang signifikan lingkup gerak sendi antara pasien kelompok ROM aktif dan kelompok ROM pasif di Instalasi Rawat Inap Bedah RSUP dr. Mohammad Hoesin Palembang tahun 2011.














 
BAB VI
PEMBAHASAN

A.    Keterbatasan Penelitian
1.      Penelitian ini berupa penelitian quasi eksperimen dimana validitas hasil penelitian dipengaruhi oleh beberapa faktor, baik faktor internal maupun faktor eksternal. Pada faktor internal validitas hasil penelitian salah satunya dipengaruhi oleh selection (seleksi), yaitu dalam memilih anggota kelompok intervensi sebaiknya homogen.
2.      Waktu penelitian yang diberikan dari tanggal 17 Oktober sampai dengan 7 November 2011, maka peneliti memperoleh 30 responden yang terdiri dari 15 pasien kelompok ROM pasif dan 15 pasien kelompok ROM aktif.

B.     Pengaruh Latihan Rentang Gerak Sendi Terhadap Lingkup Gerak Sendi pada pasien fraktur femur post operasi ORIF
Berdasarkan hasil uji statistik menunjukkan ada perbedaan lingkup gerak sendi antara pasien kelompok ROM aktif dan kelompok ROM pasif (p value 0,016). Hal ini berarti lingkup gerak sendi pada pasien kelompok ROM pasif lebih besar dibandingkan dengan kelompok ROM aktif. Keadaan ini menggambarkan bahwa latihan rentang gerak sendi dapat meningkatkan lingkup gerak sendi pada pasien fraktur femur post operasi ORIF.
Hasil penelitian ini sesuai dengan teori Suddarth & Brunner (2002) bahwa latihan rentang gerak sendi di lakukan untuk mengurangi efek imobilisasi pada pasien melalui latihan isometrik otot-otot di bagian yang di imobilisasi  latihan kuadrisep dan latihan gluteal dapat membantu mempertahankan kelompok otot besar yang penting untuk berjalan.
Menurut Suratun (2008) bahwa rentang gerak pasif ini berguna untuk menjaga kelenturan otot-otot dan persendian dengan menggerakkan otot orang lain secara pasif sedangkan latihan ROM aktif untuk melatih kelenturan dan kekuatan otot serta sendi dengan cara menggunakan otot-ototnya secara aktif .

38
 
 

Teori Oswari (2000), perawat membantu pasien pasca operatif fraktur femur melakukan Latihan ROM pasif dan menganti posisi akan meningkatkan aliran darah ke ekstermitas sehingga stasis berkurang. Kontraksi otot kaki bagian bawah akan meningkatkan aliran balik vena sehingga mempersulit terbentuknya bekuan darah.
Hasil penelitian ini sejalan dengan penelitian Maryani (2008) tentang penatalaksanaan Terapi Latihan Pada Kondisi Post Operasi Fraktur Femur 1/3 Medial Dekstra Dengan Pemasangan Plate And Screw Di RSO Prof. Dr. Soeharso Surakarta menunjukkan bahwa adanya peningkatan LGS setelah diberikan latihan ROM yaitu dari pada latihan sendi aktif LGS sebesar 35o, sedangkan latihan sendi pasif LGS sebesar 50o.
Hasil penelitian Ulliya (2007) tentang  Pengaruh Latihan Range Of Motion (Rom) Terhadap Fleksibilitas Sendi Lutut Pada Lansia  Di Panti Wreda Wening Wardoyo Ungaran menunjukkan bahwa fleksibilitas sendi lutut kiri pada lansia yang memiliki keterbatasan gerak meningkat setelah melakukan latihan ROM selama 3 minggu sebesar 31,87º dan selama 6 minggu sebesar 35º, artinya ada peningkatan yang signifikan antara pengukuran pertama-kedua pada fleksi sendi lutut kanan dan kiri dan antara pengukuran pertama-ketiga pada fleksi sendi lutut kiri. Simpulan pada penelitian ini adalah latihan ROM selama 6 minggu dapat meningkatkan fleksibilitas sendi lutut kiri sebesar 35° atau 43,75%.
Berdasarkan hasil penelitian ini peneliti berpendapat bahwa ada perbedaan lingkup gerak sendi antara pasien kelompok ROM aktif dan kelompok ROM pasif. Hal ini disebabkan karena pada pasien kelompok latihan ROM aktif tidak melakukan latihan rentang gerak sendi dengan baik karena kurang motivasi dengan alasan takut nyeri sehingga menyebabkan masih terbatasnya pergerakan sendi pasien. Sedangkan pada pasien yang dilakukan rentang gerak pasif maka pasien akan diupayakan untuk bergerak (mengegerakan kaki pasien) sehingga meningkatkan aliran darah ke ekdtremitas. Kontraksi otot kaki bagian bawah akan meningkatkan aliran balik vena sehingga mempersulit terbentuknya bekuan darah.



Latihan ROM aktif dan pasif dapat meningkatkan mobilitas sendi bila dilakukan secara rutin dan teratur dapat meningkatkan mobilitas sendi sehingga mencegah terjadinya berbagai komplikasi. Dengan adanya pergerakan sendi maka akan meningkatkan lingkup gerak sendi pada kaki yang fraktur.
























 
BAB VII
KESIMPULAN DAN SARAN

A.    Kesimpulan
Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan maka penulis mengambil kesimpulan sebagai berikut :
1.      Lingkup gerak sendi pada pasien post operasi ORIF pada kelompok ROM Aktif terbesar adalah 56 derajat, sedangkan terkecil adalah 30 derajat. Nilai rata-rata lingkup gerak sendi pada pasien post operasi ORIF pada kelompok ROM Aktif adalah 45,07 derajat dengan standar deviasi 8,111 derajat.
2.      Lingkup gerak sendi pada pasien post operasi ORIF pada kelompok ROM pasif terbesar adalah 75 derajat, sedangkan terkecil adalah 40 derajat. Nilai rata-rata lingkup gerak sendi pada pasien post operasi ORIF pada kelompok ROM Pasif adalah 53,33 derajat dengan standar deviasi 9,574 derajat.
3.      Ada perbedaan yang signifikan lingkup gerak sendi antara pasien kelompok ROM aktif dan kelompok ROM pasif di Instalasi Rawat Inap Bedah RSUP dr. Mohammad Hoesin Palembang tahun 2011 (p value 0,016).

B.     Saran
Berdasarkan simpulan tersebut maka penulis memberikan saran-saran sebagai berikut:
1.      Untuk RSUP dr. Mohammad Hoesin Palembang
Agar mempertimbangkan kegiatan latihan rentang gerak sendi menjadi suatu kegiatan rutin yang dilakukan di ruang perawatan pasien dan tidak hanya terbatas pada ruang fisioterapi serta dapat dimasukan sebagai standar operasional prosedur tentang latihan rentang gerak sendi.
2.      Untuk Instalasi Rawat Inap Bedah
41
 
Perlunya penambahan media dan sarana yang menunjang latihan rentang gerak sendi di ruang rawat inap bedah khususnya pada pasien yang mengalami fraktur, hendaknya juga dapat menyediakan alat goniometer untuk mengukur lingkup gerak sendi pasien
3.      Untuk Institusi Pendidikan
Diharapkan institusi pendidikan dapat menambah referensi di perpustakaan tentang latihan rentang gerak sendi agar menjadi sumber bacaan yang bermanfaat bagi mahasiswa untuk menerapkannya langsung di lapangan.
4.      Untuk Peneliti Selanjutnya
Hasil penelitian ini dapat ditingkatkan dengan menggunakan sampel penelitian yang lebih besar yang dilakukan tidak hanya pada pasien fraktur femur tetapi dapat juga pada pasien yang mengalami fraktur pada anggota tubuh lainnya, atau dengan menggunakan penelitian kualitatif untuk memperoleh informasi mendalam tentang perilaku pasien dalam latihan rentang gerak sendi.






















T-Test
Group Statistics

kelompok responden
N
Mean
Std. Deviation
Std. Error Mean
lingkup gerak sendi
kelompok rom aktif
15
53.33
9.574
2.472
kelompok rom pasif
15
45.07
8.111
2.094


Independent Samples Test


Levene's Test for Equality of Variances
t-test for Equality of Means


F
Sig.
T
df
Sig. (2-tailed)
Mean Difference
Std. Error Difference
95% Confidence Interval of the Difference


Lower
Upper
lingkup gerak sendi
Equal variances assumed
.369
.549
2.552
28
.016
8.267
3.240
1.630
14.903
Equal variances not assumed


2.552
27.263
.017
8.267
3.240
1.622
14.911





























Explore

Descriptives



Statistic
Std. Error
lingkup gerak sendi
Mean
49.20
1.767
95% Confidence Interval for Mean
Lower Bound
45.59

Upper Bound
52.81

5% Trimmed Mean
49.02

Median
50.00

Variance
93.683

Std. Deviation
9.679

Minimum
30

Maximum
75

Range
45

Interquartile Range
15

Skewness
.306
.427
Kurtosis
.396
.833

Tests of Normality

Kolmogorov-Smirnova
Shapiro-Wilk

Statistic
df
Sig.
Statistic
df
Sig.
lingkup gerak sendi
.101
30
.200*
.962
30
.348
a. Lilliefors Significance Correction




*. This is a lower bound of the true significance.




lingkup gerak sendi

lingkup gerak sendi Stem-and-Leaf Plot

 Frequency    Stem &  Leaf

     1,00        3 .  0
     2,00        3 .  55
     5,00        4 .  00000
     5,00        4 .  55555
     6,00        5 .  000000
     5,00        5 .  55556
     5,00        6 .  00000
      ,00        6 .
      ,00        7 .
     1,00        7 .  5

 Stem width:        10
 Each leaf:       1 case(s)







Frequencies
SKOR


Frequency
Percent
Valid Percent
Cumulative Percent
Valid
30
1
6.7
6.7
6.7
35
2
13.3
13.3
20.0
40
3
20.0
20.0
40.0
45
2
13.3
13.3
53.3
50
4
26.7
26.7
80.0
55
2
13.3
13.3
93.3
56
1
6.7
6.7
100.0
Total
15
100.0
100.0


SKOR


Frequency
Percent
Valid Percent
Cumulative Percent
Valid
40
2
13.3
13.3
13.3
45
3
20.0
20.0
33.3
50
2
13.3
13.3
46.7
55
2
13.3
13.3
60.0
60
5
33.3
33.3
93.3
75
1
6.7
6.7
100.0
Total
15
100.0
100.0













DAFTAR PUSTAKA

Appley, A. Graham, Louis Solomon, 1995; Terjemahan Ortopedi, dan Fraktur Sistem Appley; Edisi Ketujuh, Widya Medika, Jakarta.

Brunner dan Suddarth.2002.Buku Ajar Keperawatan Medikal Bedah vol 2.Jakarta:EGC

Ester Monica, 2005.  Klien Gangguan Sistem Muskuloskletal, seri Asuhan Keperawatan, EGC, Jakarta.

Hastono, S, 2001. Analisis Data. Fakultas Kesehatan Masyarakat, Universitas Indonesia. Jakarta.

Hidayat, A. 2009. Metode Penelitian Kebidanan, Teknik Analisis Data, Jakarta : Salemba Medika.

Muttaqin, 2008.  Asuhan Keperawatan Klien Gangguan Sistem Muskuloskletal, Buku Ajar, EGC, Jakarta.
Notoatmodjo, S. 2010.  Metode Penelitian Kesehatan, Jakarta, PT Rineka Cipta, Jakarta.
Potter & Perry, 2005.  Buku Ajar Fundamental Keperawatan, Konsep, Proses dan Praktik, Edisi 4, EGC, Jakarta.

Rury Kistiantari, 2009.  Penatalaksanaan Terapi Latihan Pada Kondisi Post Operasi Fraktur Femur 1/3 Distal Dextra Dengan Pemasangan Plate And Screw Di RSAL Dr. Ramelan Surabaya, Skripsi, Program Diploma III Fisioterapi Fakultas Kesehatan Universitas Muhammadiyah Surakarta.

Reeves, 2001. Keperawatan Medikal Bedah, Salemba Medika, Jakarta.

Smeltzer.S.C., Bare.B.G., (2001). Buku Ajar Keperawatan Medikal Bedah Brunner & suddarth, Volume 1 Edisi 8. Jakarta : EGC.

Suratun, 2008.  Klien Gangguan Sistem Muskuloskeletal, Seri Asuhan Keperawatan, Cetakan I, EGC, Jakarta.

Wulan Brury Wibawani, 2005. Hubungan Antara Lingkup Gerak Sendi Fleksi – Ekstensi Shoulder Terhadap Umur,  Program Diploma IV Fisioterapi Fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Muhammadiyah Surakarta.

Saryono, 2008.

Sugiyono, 2011. Metode Penelitian Kuantitatif, Kualitatif, dan R&D, Bandung : Alfabeta.



TABULASI HASIL CHECKLIST LINGKUP GERAK SENDI PADA PASIEN FRAKTUR FEMUR POST ORIF DI RUANG RAWAT INAP BEDAH RUMAH SAKIT UMUM PUSAT DR. MOHAMMAD HOESIN PALEMBANG TAHUN 2011

KELOMPOK ROM PASIF

No.
Inisial
L/P
Umur
Tanggal Operasi
Tanggal Intervensi
LGS
(Dalam Derajat)
1
AF
L
17
20-10-2011
24-10-2011
60
2
IT
L
29
21-10-2011
24-10-2011
75
3
SR
L
35
20-10-2011
27-10-2011
45
4
FE
P
41
21-10-2011
25-10-2011
60
5
RD
P
19
20-10-2011
25-10-2011
50
6
NN
L
38
22-10-2011
26-10-2011
40
7
DF
L
22
24-10-2011
27-10-2011
60
8
AD
P
47
24-10-2011
27-10-2011
45
9
AS
L
40
26-10-2011
28-10-2011
40
10
FT
L
33
26-10-2011
29-10-2011
55
11
PR
P
26
25-10-2011
29-10-2011
60
12
MS
L
50
26-10-2011
29-10-2011
45
13
ST
L
43
27-10-2011
30-10-2011
50
14
LI
L
31
27-10-2011
31-10-2011
60
15
PO
P
28
28-10-2011
31-10-2011
55

KELOMPOK ROM AKTIF

No.
Inisial
L/P
Umur
Tanggal Operasi
LGS
(Dalam Derajat)
1
YN
L
27
20-10-2011
55
2
AF
L
19
21-10-2011
30
3
DD
P
33
20-10-2011
50
4
RD
L
26
21-10-2011
56
5
YS
L
17
20-10-2011
50
6
SN
P
40
22-10-2011
45
7
FH
P
28
24-10-2011
50
8
ID
L
51
24-10-2011
40
9
YL
L
44
26-10-2011
35
10
KM
L
30
26-10-2011
35
11
RU
P
22
25-10-2011
40
12
SS
L
33
26-10-2011
45
13
RS
P
56
27-10-2011
50
14
EF
P
62
27-10-2011
40
15
AN
L
20
28-10-2011
55












 

1 komentar: